MAHALNYA NILAI SEBUAH KEJUJURAN
15 Juni 2011 1 Komentar
Paska dikeluarkannya keputusan Walikota Surabaya tentang sanksi kepala sekolah dan 2 guru terkait masalah nyontek massal di SDN Gadel 2, para wali murid kelas 1 hingga 5 dan warga sekitar berunjukrasa. Mereka menyalahkan keluarga Ny. S ibu Al yang disebut jadi biang keladi kekisruhan di SDN Gadel 2.
Dalam unjukrasa di depan rumah Ny. S, Jl. Gadelsari Barat 2/31 ini, warga menyampaikan sejumlah tuntutan, diantaranya mengusir keluarga Ny. S dari lingkungan Gadel. Ny. Endang satu diantara perwakilan warga dan wali murid SDN Gadel 2 mengatakan tuntutan lainnya adalah meminta Ny. S meminta maaf pada warga karena dianggap telah mencemarkan nama baik sekolah.
”Gara-gara pemberitaan tentang contek massal, SDN Gadel 2 jadi tercoreng nama baiknya,” kata Ny. Endang.
Dijelaskan juga olehnya, tuntutan warga dan wali kelas 1 hingga 5 SDN Gadel 2 ini murni karena terganggu dengan tindakan Ny. S serta Al yang mengungkap adanya praktik contek mencontek di SDN Gadel 2, bukan karena kepala sekolah dan 2 guru diputuskan dinonaktifkan oleh Walikota.
”Kalau Ny. S tidak mau minta maaf, warga sepakat mengusir keluarga ini keluar dari Gadel!” kata Ny. Endang disambut teriakan usir..usir..usir…! dari para pengunjukrasa. (suarasurabaya.net- 8 Juni 2011)
Ya, di atas adalah cuplikan berita mengenai nasib Ny. S dan anaknya Al, yang harus menghadapi ancaman pengusiran warga sekitar tempat tinggalnya karena tindakannya mengungkap praktik menyontek massal di SDN Gadel 2 Surabaya tersebut. Dalam berita sebelumnya Ny. S saat berbincang pada suarasurabaya.net setelah unjukrasa ratusan warga siang tadi mengaku sangat tertekan. Bahkan Al anaknya sejak Sabtu (04/06) sudah diungsikan ke Benjeng, Gresik demi menghindari tekanan bertubi-tubi dari warga ini.
”Demi Allah, saya tidak bermaksud untuk mencemarkan nama baik SDN Gadel 2, membuat kepala sekolah dan guru dihukum seberat itu. Saya sebenarnya juga tidak terima hukuman mereka terlalu berat seperti itu. Yang saya inginkan adalah pembenahan sistem pendidikan untuk anak saya. Saya sudah mengajarkan etos belajar dan kejujuran ke anak saya sejak dia lahir. Saya tidak mau dia kebingungan saat dia dewasa nanti, mana yang jujur dan mana yang tidak jujur,” kata dia.
Keteguhan hatinya dalam kasus ini, juga tidak lain memberikan pelajaran pada Al anaknya tentang nilai kejujuran yang harus dipertahankan meskipun tekanannya sangat berat. Diakui Ny. S tekanan yang sangat berat itu sempat berkali-kali membuatnya nyaris menyerah. Tapi dia kemudian kuat kembali karena tidak ingin Al menyimpulkan nilai kejujuran yang diajarkan kalah dengan tekanan-tekanan dari luar….
Sebenarnya kalau dilihat lebih jauh, kasus-kasus kecurangan dalam pelaksanaan Ujian Nasional sudah sangat sering terjadi sehingga seolah-olah menjadi hal yang dianggap biasa saja, mulai dari kasus joki hingga nyontek secara massal. Ini seolah-olah hanya sebuah fenomena gunung es tentang carut marutnya tata nilai yang berkembang di masyarakat kita saat ini. Ya, saya cenderung menganggap Ny.S dan anaknya termasuk para guru dan siswa juga menjadi korban dari kondisi yang tidak sehat ini.
Saya juga tidak tahu, apakah ini karena sesuatu yang hilang dalam sistem pendidikan kita atau ada semacam ‘virus’ lain yang demikian ganas menyerang mentalitas dan tata nilai luhur sehingga nilai kejujuran menjadi barang yang sangat langka, dan bagi yang ingin memperolehnya tidak jarang harus membayar lebih mahal.
Ini tidak sekedar masalah di aspek pendidikan saja, tapi sudah merambah hampir ke seluruh aspek kehidupan. Yang namanya kecurangan bisa dilihat di mana saja, kapan saja. Politikus curang biasa, pejabat korupsi sudah tiap hari jadi konsumsi berita publik, pedagang curang dalam timbangan dianggap lumrah, penyimpangan proyek-proyek yang notabene menggunakan uang rakyat setali tiga uang, bahkan urusan ibadah pun semacam ibadah haji pun juga tak luput dari praktik-praktik yang tidak jujur, dan rasanya terlalu panjang kalau mau kita urai di sini.
Ironis memang, ketika ada pihak-pihak yang mau menegakkan kejujuran, nasibnya tak jauh-jauh dari apa yang dialami Ny.S dan anaknya. Kita masih ingat Prita Mulyasari yang justru menghadapi dakwaan kasus ITE, pada kasus tindak pidana korupsi (tipikor) lebih-lebih lagi, atau siapa pun yang mau menjadi whistle blower juga akan mengalami nasib serupa.
Carut-marutnya mentalitas di negeri ini sampai-sampai ada tokoh nasional negeri ini yang menyebut bahwa negeri kita pantas disebut kleptokrasi (klepto =maling/pencuri, kratein =pemerintahan), sehingga artinya pemerintahan para maling. Negeri kleptokrasi artinya negeri yang diperintah oleh para maling. Negeri ini seperti biduk besar yang bocor disebabkan oleh ulah para penghuninya sendiri.
Sebagai bagian dari keluarga besar bangsa ini, tentu kita semua tidak ingin biduk negeri ini dibiarkan bocor dan akhirnya tenggelam, paling tidak jangan sampai ikut-ikutan membocorkannya. Mari kita perbaiki bersama, dimulai dari diri kita.Mari bekerja untuk perbaikan negeri ini. Semoga Alloh SWT meridhoi kita semua..

>> INDONEIAN IDIOT <<