PENDIDIKAN ISLAM SOLUSI UNTUK MELAHIRKAN GENERASI UNGGUL

Masih segar dalam ingatan kita kasus contek massal yang cukup heboh beberapa waktu yang lalu, yang ironisnya pihak yang mengungkap kasus ini justru dimusuhi dan sempat diusir oleh warga sekitar tempat tinggal yang bersangkutan. Sebagaimana yang telah saya uraikan dalam tulisan saya yang sebelumnya, kasus ini hanyalah semacam fenomena gunung es, di mana masalah yang sebenarnya jauh lebih besar dan kompleks. Terlepas dari pro dan kontra dari peristiwa tersebut, kita semua turut prihatin bahwa PR negeri kita terutama untuk masalah pendidikan semakin bertambah. Di samping kesejahteraan para guru memang perlu diperbaiki, kondisi anak didik pun perlu mendapatkan perhatian yang cukup serius. Belum selesai permasalahan perkelahian antar pelajar, masih ditambah lagi dengan maraknya penggunaan narkotika dan obat-obatan terlarang lainnya (narkoba), pornografi, serta pergaulan bebas yang makin menjadi-jadi. Hal ini sudah terjadi di semua tingkat sekolah, dari perguruan tinggi hingga tingkat yang masih sekolah dasar. Di sinilah perlunya kita merenungkan kembali mengenai pola pendidikan yang ada sekarang ini. Sistem pendidikan yang cenderung sekuleristik di mana ada pemisahan antara sistem akhlak dan moralitas dengan muatan-muatan lain juga akan melahirkan generasi-generasi yang cerdas di satu sisi namun minus nilai akhlak.
Pendidikan bisa diartikan: cara ideal dalam berinteraksi dengan fitrah manusia baik secara langsung (berupa kata-kata) maupun tidak secara langsung (berupa keteladanan, sesuai dengan sistem dan perangkatnya yang khas) unttuk memproses perubahan dalam diri manusia menuju kondisi yang lebih baik. Pendidikan Islam merupakan aktivitas terarah dan tersistematis sebagai upaya untuk mengembangkan dan mengarahkan potensi yang meliputi ruhani, jasmani dan akal pikiran agar menjadi manusia sholih. Ruang lingkup Pendidikan Islam tidak jauh berbeda dengan ruang lingkup pendidikan pada umumnya, yakni terdiri atas beberapa komponen:
a. Masukan, berupa anak didik,
b. Perangkat masukan berupa guru, materi pelajaran, faktor komunikasi pendidikan, bentuk komunikasi pendidikan, situasi pendidikan,
c. Lingkungan yang meliputi keluarga, masyarakat (sosial, budaya, ekonomi)

Tujuan akhir pendidikan Islam adalah terciptanya insan muttaqien berupa aqidah yang shohih, akal yang cerdas, akhlaq yang mulia dan tubuh yang kuat. Jadi perlu saya garis bawahi bahwa pendidikan Islam di sini tidaklah sebatas mempelajari ilmu tauhid, hadits, syari’ah, fiqih dan ibadah semata.
Untuk mewujudkan tujuan itu, dilakukan proses pendidikan Islamiyah yang mengacu pada lima ayat pertama surat Al-‘Alaq dan melibatkan seluruh komponen pendidikan : Iqra’ bismirabbikalladzii kholaq. Kholaqol insaana min ‘alaq. Iqra warabbukal akromulladzii ‘allama bil qolam. “allamal insaana maa lam ya’lam. Dari ayat-ayat di atas terdapat lima poin penting dalam proses pendidikan. Pertama, Iqro’ (bacalah). Membaca adalah induk dari ilmu. Ini merupakan faktor paling mendasar dalam proses belajar mengajar dengan orientasi apapun, karena membaca merupakan pintu gerbang bagi seseorang dalam memasuki dunia ilmu pengatahuan. Namun demikian umat Islam mempunyai kekhususan dalam aktivitas membaca ini. Yaitu, kedua, Robb. Inilah yang membedakan umat Islam dengan umat lain dalam aktivitas membaca. Umat Islam senantiasa mengawali aktivitas membacanya dengan “menyebut nama Tuhan Yang Telah Menciptakan. Ini merupakan bukti bahwa dalam Islam aktivitas apapun haruslah didahului dengan niat yang baik dan dalam rangka mencari ridlo Alloh. Sehingga dalam pendidikan Islam, yang dituju tidaklah sekedar membentuk manusia-manusia yang ber-IPTEK (ilmu Pengetahuan) tapi juga ber-IMTAQ (Iman dan Taqwa). Ketiga, insaan (manusia) . Inilah subjek dan objek pendidikan. Insan merupakan pengendali utama dari keseluruhan proses pendidikan. Kesiapan guru sebagai pendidik dan kesiapan anak didik untuk menerima ilmu sangat berpengaruh dalam keberhasilan proses pendidikan tersebut. Sosok guru sebagai pendidik berperan penting dalam membentuk kepribadian anak didiknya. Sehingga ada istilah guru adalah digugu dan ditiru (dipatuhi dan diteladani). Keempat, ‘allama (mengajar) . Merupakan transer ilmu antara pendidik dan anak didik. Proses ‘allama (mengajar) ini tidak hanya semata-mata penyampaian materi dari guru kepada anak didiknya, tetapi bagaimana anak didiknya dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti, dan dari tidak faham menjadi faham (maa lam ya’lam). Dan kelima, qolam (pena). Ini melambangkan perlunya menumbuhkan jiwa menulis dalam pendidikan. Menulis tidak hanya diartikan dengan mencatat materi pelajaran, tetapi lebih dari itu untuk menumbuhkan kreativitas baik bagi anak didik maupun gurunya itu sendiri dalam rangka mngembangkan potensi dirinya.
Kedudukan membaca (iqro’) bagi ummat Islam, sama dengan aktivitas lain yang bernilai ibadah. Karena itu, niat merupakan faktor penting sebelum melakukannya. Landasan Rabbaniyyah ini sejalan dengan sifat pendidikan itu sendiri yang berupaya membina dan mengarahkan fitrah manusia.
Pengaruhnya terhadap ilmu yang dipelajarinya pun cukup besar dalam kehidupan sehari-hari. Ummat Islam dengan landasan ini mempunyai tanggung jawab moral dan intelektual terhadap penemuannya. Teknologi sebagai hasil dari ilmu digunakan untuk kemaslahatan masyarakat. Sikap-sikap yang seharusnya melekat dalam diri ilmuwan, seperti jujur, bertanggung jawab, kreatif dan cinta kemajuan, terdapat pada umat Islam yang belajar dan mengajar secara manhaji (tertata berdasarkan sistem Islami). Dengan landasan inilah dilahirkan teori-teori yang dapat dipertanggungjawabkan.

Sifat Rabbaniyyah pendidikan Islam makin terasa ketika Allah SWT banyak berfirman tentang ilmu dan orang-orang berilmu, di antaranya :
“…maka bertanyalah kepada orang-orang yang berilmu pengetahuan.” (QS. An-Nahl : 43)
“…niscaya Alloh akan meninggikan orang-orang beriman di antara kamu dan orang-orang berilmu beberqpa derajat…” (QS. Al-Mujadalah: 11)
Katakanlah (hai Muhammad) ‘Apakah sama mereka yang berpengetahuan dan mereka yang tidak berpengetahuan ? (QS. Az-Zumar : 9)
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam banyak bersabda tentang ilmu selain dalam hadts yang masyhur seperti:”Tholabul ‘lmi faridhotun ‘alaa kulli muslimun wal muslimatun” dan “Uthlubul ‘ilma minal mahdi ilalahdi”, beliaupun bersabda:”Barangsiapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu, mala Allah akan memudahkan baginya jalan ke syurga…” (Riwayat Muslim dan Ashhabussunan serta ibnu Hibban dalam shohihnya)
Insaan (manusia) dalam sistem pendidikan Islam merupakan faktor yang amat penting. Jika manusia sebagai subjek pendidikan rusak, maka tak ada lagi yang diharapkan oleh anak didik. Kurikulum yang baik dan sarana penunjang yang memadai pun tak akan banyak berarti bila guru tak mampu mengoperasionalkan kurikulum dan tak maksimal dalam pemanfaatan sarana. Karena itu Islam mengingatkan para pendidik agar menunjukkan akhlaq mulia , di samping kompetensi yang memadai dan hatinya bersih dari motif-motif yang menjauhkan nilai-nilai ibadah.
Manusia sebagai objek pendidikan pun tak lepas dari tuntutan Islam. Terhadap mereka, Islam mengajarkan agar menghormati ilmu dan orang-orang berilmu. Dalam kehidupannya, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam senantiasa dihiasi oleh kegitan belajar mengajar (’allama ). Selain memberikan bimbingan rutin kepada para shahabat, beliau juga tak pernah menyia-nyiakan kesempatan. Setiap saat bagi beliau, adalah tepat untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Beliau pernah membebaskan tawanan perang dengan syarat yang unik: mengajarkan baca tulis kepada ummat Islam.

PERMASALAHAN
Permasalahan-permasalahan pendidikan mengarah pada terdapatnya kesenjangan antara tujuan yang hendak dicapai dan kenyataan keluaran sebagai hasil proses pendidikan. Fenomena kerusakan moral, kekerasan, tawuran yang akhir-akhir ini dilakukan pelajar-pelajar di kota-kota besar, maraknya penggunaan narkoba, serta praktek-praktek kecurangan, sebagaimana telah disebutkan di muka, merupakan satu indikasi bahwa proses pendidikan belum berlangsung optimal.
Pendidikan Islam yang bertujuan menciptakan insan muttaqien, menanggung beban berat. Bahkan belum sampai pada tingkat ini, pendidikan Islam dituntut untuk menciptakan sistem yang Islami. Ini merupakan pekerjaan yang sulit untuk mencari guru ideal , misalnya di tengah arus konsumerisme dan materialisme.
Guru merupakan faktor terpenting dalam pendidikan Islam. Kurikulum yang baik tidak akan bermanfaat bila tidak diaktualisasikan dengan baik oleh guru. Guru yang memahami tujuan pendidikan akan memperlancar upaya pencapaian tujuan yang optimal. Menguasai materi pelajaran dan cara penyampaian serta komitmennya pada profesi ini merupakan tuntutan mutlak bagi guru.
Permasalahan teknis lainnya terkait dengan kesejahteraan guru. Latar belakang timbulnya permasalahan ini terutama kurangnya penghargaan terhadap profesi guru. Guru dianggap sebagai komplementer dari kelompok fungsional dan profesional. Sistem penggajian tidak memadai. Kenyataan-kenyataan yang telah disebutkan pada awal pembahasan tadi karena masalah-masalah tersebut belum terakomodasi dengan semestinya.
Padahal di tangan para guru inilah SDM unggul dilahirkan walau tidak secara langsung. Guru ibarat akar pohon yang tidak secara langsung menghasilkan buah. Orang hanya melihat bahwa buah tumbuh dari bunga dan bunga tergantung pada ranting. Akar pohon yang menyangga batang, ranting, bunga dan buah sering terlupakan. Amat tidak layak jika kita hanya menghargai profesi lain selain guru. Kita tetap berharap semoga permasalahan yang menghadang proses pendidikan di negeri kita segera terselesaikan dengan harapan terciptanya SDM unggul yang memiliki IMTAQ dan IPTEK.

Sekarang tinggal bagaimana sikap kita, apakah kita masih bertahan dengan system pendidikan sekuleristik yang tidak memberikan solusi atau system pendidikan robbaniyah ..? Wallahu ‘alam bishowwab

Perihal MasPugh
Aku hanyalah seorang ayah dari 5 orang anak yang lucu-lucu dengan istri tercinta yang ingin meraih kesuksesan dunia dan akhirat...Orang tuaku memberiku nama Puguh Subiantoro, biasa dipanggil Si Pugh atw Mas Pugh..Tinggal di Kemloko, Nglegok, Blitar (wong ndeso tenan) tapi masih keliling-keliling di beberapa daerah di negeri ini...

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.